Sejarah dan Landasan Pendirian STIABI Riyadlul Ulum

05/10/2017 | 190 kali | Tentang

Pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut mengisyaratkan bahwa masyarakat dapat secara aktif turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan, bukti kepedulian masyarakat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sebagai bagian dari masyarakat merasa terpanggil untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mendirikan lembaga pendidikan baik pendidikan formal maupun non-formal dengan jenjang pada pendidikan dasar, menengah dan tinggi. 

Keterlibatan Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sudah cukup lama dalam penyelenggaraan bidang pendidikan. Lembaga pendidikan yang sudah lama didirikan adalah Pondok Pesantren dan sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Pondok pesantren tersebut bernama Riyadul Ulum Wadd’awah. Pada tahun 1970 didirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sesuai dengan tuntutan zaman, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah mendirikan  Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan pada tahun 2003 didirikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua sekolah tersebut (SMP dan SMA) diberi nama SMP dan SMA Terpadu Riyadul Ulum Wadd’awah.

Khusus untuk SMP dan SMA dikembangkan dengan model pendidikan terpadu, yaitu dipadukan dengan sistem pendidikan pesantren. Dalam pengembangan kurikulum seperti ini, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah mencoba memadukan antara pendidikan agama yang ada dalam pesantren dan pendidikan umum yang dikembangkan dalam kurikulum nasional Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dengan model pengembangan pendidikan terpadu ini diharapkan lulusan sekolah baik SMP maupun SMA memiliki kompetensi yang berimbang dan terpadu yaitu antara kompetensi spiritual kegamaan, karekter dan pengetahuan yang diberikan oleh kurikulum nasional.

Model pengembangan sistem pendidikan yang terpadu ini, ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat. Respon tersebut ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah siswa yang mendaftar baik pada jenjang SMP maupun SMA. Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah calon siswa yang mendaftar. Walaupun jumlah peminat yang meningkat, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah tetap menjaga mutu lulusan. Upaya yang dilakukan oleh pengelola sekolah yaitu dengan melakukan seleksi yang ketat pada calon siswa. Para siswa yang akan mendaftar baik pada jenjang SMP maupun SMA harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar keagamaan pada jenjangnya (SMP dan SMA). Sehingga dari seluruh calon siswa yang mendaftar tidak semuanya diterima. Walaupun melakukan tes yang cukup ketat tidak mengurangi jumlah calon siswa yang mendaftar dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016 jumlah siswa di SMP dan SMA sekitar 1.800 orang.

Respon masyarakat yang begitu tinggi dalam mengembangkan model pendidikan terpadu dengan memadukan pendidikan agama (pesantren) dan umum menjadi tantangan bagi Yayasan Tarbiyatul Islamiyah untuk mengembangkan suatu model pendidikan terpadu pada tingkat pendidikan tinggi. Apalagi banyak lulusan dari SMA yang ada di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan pesantren yang diwadahi oleh jenjang pendidikan tinggi. Atas dasar tuntutan tersebut Yayasan Tarbiyatul Islamiyah memandang perlu untuk mendirikan pendidikan tinggi sebagai upaya untuk melanjutkan misi dari Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan.

Selain tuntutan yang bersifat internal, pendirian lembaga pendidikan tinggi bagi Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sangat diperlukan mengingat tantangan global yang terjadi pada saat ini hingga ke depan. Globalisasi merupakan suatu situasi yang menujukkan adanya suatu percepatan perubahan yang disebabkan oleh adanya kemajuan teknologi informasi. Perubahan-perubahan itu sangat mempengaruhi pola perilaku masyarakat. Arus informasi yang datang dari berbagai penjuru dunia begitu mudah cepat diterima oleh masyarakat melalui berbagai media khususnya media sosial dengan jaringan internet. Masuknya arus informasi ini sudah barang tentu akan membawa pula aspek budaya dari luar yang dalam beberapa hal bisa berbeda dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Akibatnya akan menyebabkan tercerabutnya akar-akar budaya yang dimiliki masyarakat.

Disamping mempengaruhi terhadap budaya yang dimiliki oleh masyarakat, arus globalisasi juga akan berpengaruh terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan seseorang atau kelompok masyarakat. Pengaruh dari luar dapat saja bertentangan dengan nilai-nilai agama. Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama akan tercerabut. Oleh sebab itu perlu dibuka program studi yang mampu menanamkan nilai-nilai agama dan juga mampu menanamkan jati diri budaya dan bangsa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah bermaksud untuk mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam (STIABI) Riyadlul Ulum yang membuka program Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Sejarah Peradaban Islam (SPI).


Share: