Sejarah Singkat

Profil

 

Pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut mengisyaratkan bahwa masyarakat dapat secara aktif turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan, bukti kepedulian masyarakat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sebagai bagian dari masyarakat merasa terpanggil untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mendirikan lembaga pendidikan baik pendidikan formal maupun non-formal dengan jenjang pada pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Keterlibatan Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sudah cukup lama dalam penyelenggaraan bidang pendidikan. Lembaga pendidikan yang sudah lama didirikan adalah Pondok Pesantren dan sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Pondok pesantren tersebut bernama Riyadul Ulum Wadd’awah. Pada tahun 1970 didirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sesuai dengan tuntutan zaman, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah mendirikan  Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan pada tahun 2003 didirikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua sekolah tersebut (SMP dan SMA) diberi nama SMP dan SMA Terpadu Riyadul Ulum Wadd’awah.

Khusus untuk SMP dan SMA dikembangkan dengan model pendidikan terpadu, yaitu dipadukan dengan sistem pendidikan pesantren. Dalam pengembangan kurikulum seperti ini, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah mencoba memadukan antara pendidikan agama yang ada dalam pesantren dan pendidikan umum yang dikembangkan dalam kurikulum nasional Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dengan model pengembangan pendidikan terpadu ini diharapkan lulusan sekolah baik SMP maupun SMA memiliki kompetensi yang berimbang dan terpadu yaitu antara kompetensi spiritual kegamaan, karekter dan pengetahuan yang diberikan oleh kurikulum nasional.

Model pengembangan sistem pendidikan yang terpadu ini, ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat. Respon tersebut ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah siswa yang mendaftar baik pada jenjang SMP maupun SMA. Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah calon siswa yang mendaftar. Walaupun jumlah peminat yang meningkat, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah tetap menjaga mutu lulusan. Upaya yang dilakukan oleh pengelola sekolah yaitu dengan melakukan seleksi yang ketat pada calon siswa. Para siswa yang akan mendaftar baik pada jenjang SMP maupun SMA harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar keagamaan pada jenjangnya (SMP dan SMA). Sehingga dari seluruh calon siswa yang mendaftar tidak semuanya diterima. Walaupun melakukan tes yang cukup ketat tidak mengurangi jumlah calon siswa yang mendaftar dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016 jumlah siswa di SMP dan SMA sekitar 1.800 orang.

Respon masyarakat yang begitu tinggi dalam mengembangkan model pendidikan terpadu dengan memadukan pendidikan agama (pesantren) dan umum menjadi tantangan bagi Yayasan Tarbiyatul Islamiyah untuk mengembangkan suatu model pendidikan terpadu pada tingkat pendidikan tinggi. Apalagi banyak lulusan dari SMA yang ada di Yayasan Tarbiyatul Islamiyah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan pesantren yang diwadahi oleh jenjang pendidikan tinggi. Atas dasar tuntutan tersebut Yayasan Tarbiyatul Islamiyah memandang perlu untuk mendirikan pendidikan tinggi sebagai upaya untuk melanjutkan misi dari Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan.

Selain tuntutan yang bersifat internal, pendirian lembaga pendidikan tinggi bagi Yayasan Tarbiyatul Islamiyah sangat diperlukan mengingat tantangan global yang terjadi pada saat ini hingga ke depan. Globalisasi merupakan suatu situasi yang menujukkan adanya suatu percepatan perubahan yang disebabkan oleh adanya kemajuan teknologi informasi. Perubahan-perubahan itu sangat mempengaruhi pola perilaku masyarakat. Arus informasi yang datang dari berbagai penjuru dunia begitu mudah cepat diterima oleh masyarakat melalui berbagai media khususnya media sosial dengan jaringan internet. Masuknya arus informasi ini sudah barang tentu akan membawa pula aspek budaya dari luar yang dalam beberapa hal bisa berbeda dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Akibatnya akan menyebabkan tercerabutnya akar-akar budaya yang dimiliki masyarakat.

Disamping mempengaruhi terhadap budaya yang dimiliki oleh masyarakat, arus globalisasi juga akan berpengaruh terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan seseorang atau kelompok masyarakat. Pengaruh dari luar dapat saja bertentangan dengan nilai-nilai agama. Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama akan tercerabut. Oleh sebab itu perlu dibuka program studi yang mampu menanamkan nilai-nilai agama dan juga mampu menanamkan jati diri budaya dan bangsa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Yayasan Tarbiyatul Islamiyah bertekad untuk mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam (STIABI) Riyadlul Ulum yang membuka program Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Sejarah Peradaban Islam (SPI). Pendirian dan pembukaan program studi ini didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, tuntutan internal lembaga. Yayasan Tarbiyatul Islamiyah telah mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Pondok Pesantren Riyadul Ulum Wadd’awah. Pondok pesantren ini sudah lama berdiri sejak zaman penjajahan Belanda yaitu sekitar tahun 1920. Sejak tahun 2003 didirikan SMA dengan nama SMA Terpadu Riyadul Ulum Wadd’awah dengan model kurikulum yang dipadukan antara kurikulum  pesantren dengan belajar kitab kuning dan kurikulum sekolah umum. Pada umumnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di SMA Riyadul Ulum Wadd’awah memiliki motivasi  ingin mendapatkan pengetahuan dan penanaman nilai-nilai agama dari pondok pesantren. Tuntutan motivasi orang tua tersebut ternyata masih ada pada saat anaknya lulus dari SMA. Para orang tua banyak menuntut agar Yayasan Tarbiyatul Islamiyah mendirikan perguruan tinggi yang dipadukan dengan kurikulum pesantren atau perguruan tinggi terpadu. Harapan orang tua agar anaknya mendapatkan pendidikan pesantren pada tingkat pendidikan tinggi. Mereka menginginkan agar anaknya kelak mendapatkan pengetahuan agama yang bersumber dari nilai-nilai pesantren dan pengetahuan umum yang bersumber dari program studi umum yang didirikan oleh Yayasan Tarbiyatul Islamiyah.

Kedua kondisi perguruan tinggi di Tasikmalaya di Kota Tasikmalaya belum ada perguruan tinggi yang membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Arab dan Sejarah Peradaban Islam. Beberapa perguruan tinggi agama Islam yang ada di Kota Tasikmalaya yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya, STAI Nahdlatul Ulama (STAINU), dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Hidayah, belum membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI).

Ketiga, kebutuhan masyarakat dan peluang kerja sarjana lulusan Bahasa dan Sastra Arab sangat diperlukan. Keperluan ini didasarkan pada realitas lembaga pendidikan di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya banyak tersebar pondok pesantren. Lulusan pondok pesantren banyak yang menghasilkan para ulama yang akan membimbing keagamaan masyarakat. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang ulama adalah kemampuan berbahasa Arab. Pemahaman terhadap bahasa dan sastra Arab akan menjadi penting bagi seorang ulama agar dapat mudah memahami sumber-sumber literatur Islam yang lebih primer khususnya yang berbahasa Arab. Banyak sekali teks-teks literatur Islam yang menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian bagi seorang ulama bahasa Arab merupakan alat utama untuk menambah pengetahuan tentang Islam.

Keempat Untuk menghadapi persaingan dan pergaulan antar bangsa dibutuhkan adanya kemampuan berbahasa. Salah satu bahasa yang menjadi bahasa dunia adalah bahasa Arab. Bahasa Arab adalah salah satu bahasa PBB dan banyak dipakai dalam pergaulan dunia khususnya di negara-negara yang berpenduduk Islam. Negara-negara Islam merupakan negara-negara yang berada di belahan timur dunia. Prediksi ke depan pertumbuhan ekonomi dunia akan bergeser dari Barat ke Timur. Kondisi seperti ini akan menjadi suatu peluang besar bagi para pencari tenaga kerja. Lulusan program studi Bahasa Arab akan memiliki daya saing yang sangat signifikan di era persaingan tenaga kerja dalam menghadapi globalisasi.

Kelima, kebutuhan masyarakat dan peluang kerja sarjana lulusan Prodi  Sejarah dan Peradaban Islam sangat diperlukan. Keperluan ini didasarkan pada realitas lembaga pendidikan di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya banyak tersebar pondok pesantren. Lulusan pondok pesantren banyak yang menghasilkan para ulama yang akan membimbing keagamaan masyarakat. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang ulama adalah pemaham terhadap sejarah Islam. Pemahaman terhadap sejarah akan menjadi penting bagi seorang ulama agar bisa menjadi salah satu pendekatan dalam memahami fenomena dalam masyarakat. Masyarakat adalah suatu relaitas yang berubah dan perubahan itu disebabkan oleh salah satunya adalah sejarah perjalanan suatu masyarakat. Dakwah seorang ulama akan sangat komprehensif bila memahami aspek sejarah.

Keenam tantangan ke depan sebagai upaya untuk menghadapi globalisasi. Selain masalah penanaman nilai agama dan budaya di era globalisasi ke depan, akan dihadapkan adanya kompetisi tenaga kerja. Globalisasi telah membawa masyarakat dan menjadi warga dunia. Sekat-sekat geografis antara negara menjadi sempit dan terjadi transparansi dalam pergaulan antar umat manusia dalam pergaulan. Program studi sejarah dan peradaban Islam sangat penting dalam menghadapi tantangan globalisasi. Kajian sejarah merupakan kajian tentang aktivitas manusia di masa lalu. Secara keruangan kajian sejarah akan memahami perjalanan aktivitas bangsa-bangsa baik bangsa Indonesia maupun bangsa lainnya. Bahkan tumbuh dan berkembangnya peradaban umat manusia akan mudah dipahami dengan kajian sejarah, karena sejarah merupakan disiplin ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan budaya dan peradaban umat manusia.

Pemahaman manusia terhadap apa yang terjadi di masa lalu akan memberikan pelajaran, karena peristiwa-peristiwa di masa lalu memiliki nilai edukatif. Nilai edukatif dari sejarah adalah penanaman terhadap jati diri dan penanaman cinta terhadap budaya khususnya budaya bangsa. Dengan demikian pendirian program studi sejarah memiliki signifikansi yang penting dalam menghadapi dampak arus globalisasi. Penanaman nilai-nilai sejarah akan berkorelasi terhadap penanaman nilai-nilai budaya.


Share: